Cerpen: Cinta Yang Membusuk Dalam Ingatan

Baiklah, inilah kisah pendek bergaya Dracin, "Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan": **Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan** Hujan abu-abu membasahi Kota Shanghai, persis seperti hatiku, pikir Anya. Gedung-gedung tinggi menjulang, saksi bisu sebuah **PENGKHIANATAN** yang terukir dalam sanubari. Tiga tahun. Tiga tahun aku mencintai Huang Zi Tao, memberikan segalanya, bahkan mimpi-mimpiku sendiri. Senyumnya… oh, senyum itu. Dulu, Anya akan rela melakukan apa saja demi melihatnya merekah. Sekarang, senyum itu terasa seperti duri *yang perlahan menusuk*, pengingat betapa bodohnya ia. Senyum yang dulu menghangatkan, kini membekukan. Pelukannya… dulu, Anya merasa aman dalam dekapannya. Sekarang, Anya merasakan racun mengalir dalam setiap sentuhan. Pelukan yang dulu menenangkan, kini mencekik. Janji-janjinya… *dulu*, janji-janji itu adalah bintang penuntun, membimbingnya melewati gelapnya hidup. Sekarang, janji-janji itu adalah belati, menancap dalam, merobek-robek kepercayaannya. Janji yang dulu mengikat, kini membebaskan dalam pilu. Anya, dengan gaun sutra merahnya, berjalan dengan anggun di lobi hotel bintang lima. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik wajah tenang dan senyum tipisnya, berkecamuk badai. Anya *tidak akan* membiarkan siapapun melihat kerapuhannya. Ia adalah Anya Li, pewaris tunggal Li Corporation, dan ia akan bangkit, lebih kuat dari sebelumnya. Huang Zi Tao, dengan setelan jas mahalnya, menunggunya di meja VIP. Senyum angkuhnya memudar saat melihat Anya. Ada sesuatu yang berbeda dari Anya. Bukan hanya pakaiannya, bukan hanya riasannya, tapi sorot matanya. *Dingin*. "Anya, sayang sekali kau datang. Aku hampir selesai berurusan dengan investor ini," kata Huang Zi Tao, mencoba mencairkan suasana. Anya tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. "Zi Tao, *kau* adalah investasiku yang paling berharga. Tentu saja aku harus memastikan investasiku berkembang." Anya mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh Huang Zi Tao, tapi untuk mengambil sebuah amplop dari pelayan yang tiba-tiba muncul. Ia melemparkan amplop itu ke meja. "Surat pengunduran dirimu sebagai CEO Li Corporation. Semua asetmu sudah dibekukan. Istrimu, Selina, tahu segalanya. Selamat menikmati **KEHANCURANMU**, Zi Tao." Huang Zi Tao ternganga. Matanya membelalak. Bagaimana mungkin? Anya berbalik, meninggalkan Huang Zi Tao yang terpaku di tempatnya. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya keheningan. Keheningan yang lebih menyakitkan dari seribu pedang. Di luar, hujan masih turun. Anya menatap langit, merasakan sedikit penyesalan, tapi juga kepuasan. Ini bukanlah balas dendam berdarah. Ini adalah balas dendam yang *abadi*, sebuah penyesalan yang akan menghantui Huang Zi Tao seumur hidupnya. Anya masuk ke dalam limusinnya, meninggalkan Huang Zi Tao di belakang, di tengah badai yang ia ciptakan sendiri. Anya tahu, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa… **cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama.**
You Might Also Like: Tips Sunscreen Lokal Dengan Ekstrak

OlderNewest

Post a Comment