Oke, ini dia, sebuah kisah dracin modern berjudul "Cinta yang Menghapus Nama di Silsilah": **Cinta yang Menghapus Nama di Silsilah** Layla menatap layar ponselnya. Hujan kota Jakarta menari-nari di kaca jendela, memburamkan cahaya neon yang menyilaukan. Aroma kopi robusta yang pekat gagal menenangkan hatinya yang bergemuruh. Notifikasi Instagram berkedip, tapi Layla mengabaikannya. Matanya terpaku pada satu nama di deretan *chat* yang lalu: **Adrian.** Dua tahun. Dua tahun sejak *chat* terakhir yang tak terkirim, sejak mimpi-mimpi mereka patah bagai gelas kristal yang terjatuh ke lantai marmer. Dua tahun sejak Adrian menghilang, lenyap ditelan kabut misteri yang kelam. Mereka bertemu di aplikasi kencan. Klise, memang. Tapi cinta mereka tumbuh subur di antara *emoticon* hati dan *sticker* beruang lucu. Adrian, dengan senyumnya yang menenangkan dan tatapan mata yang menyimpan seribu rahasia, berhasil mencuri hati Layla yang selama ini terlindungi dinding tinggi kesendirian. Namun, ada yang aneh. Adrian selalu menghindar jika Layla menyinggung keluarganya. "Itu rumit," ujarnya singkat, lalu mengalihkan pembicaraan. Layla mencoba memahami. Setiap orang punya masa lalu. Tapi, semakin lama, rasa penasaran itu menggerogoti hatinya. Suatu malam, setelah pertengkaran kecil yang dipicu kecurigaan Layla, Adrian pergi. Tanpa sepatah kata pun. Ponselnya mati. Akun media sosialnya lenyap. Seolah ia tidak pernah ada. Layla merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Kehilangan yang samar, seperti bayangan yang menari di sudut mata. Ia mencari Adrian, menelusuri setiap jejak digital yang tersisa, tapi hasilnya nihil. Namanya seolah terhapus dari *database* dunia. Hingga suatu hari, seorang teman mengirimkan tautan berita. Berita tentang keluarga konglomerat Tanujaya yang tengah dilanda skandal: perebutan warisan yang berujung pada pengusiran salah satu anggota keluarga. Sebuah foto terpampang di sana. Foto seorang pria yang sangat familiar. **Adrian Tanujaya.** Layla tersentak. Jadi ini alasan Adrian menghindar? Jadi ini rahasia yang ia simpan rapat-rapat? Ia adalah pewaris tahta yang memilih untuk menghilang, meninggalkan gemerlap dunia dan konflik keluarga yang memuakkan. Kemarahan mendidih dalam diri Layla. Ia merasa dibohongi, dipermainkan, dicampakkan begitu saja. Ia ingin berteriak, memaki, menuntut penjelasan. Tapi, Layla bukan tipe wanita yang suka drama. Ia menyusun rencana. Balas dendam yang lembut, tapi mematikan. Layla menghubungi Adrian. Ia mengirimkan *chat* singkat: "Aku tahu segalanya." Adrian membalas. Pertemuan diatur di sebuah kafe di pinggiran kota. Saat Adrian datang, Layla sudah duduk di meja pojok, menyesap *latte* hangat. Adrian terlihat lebih kurus, tapi senyumnya masih sama. "Layla," sapanya lirih. Layla tersenyum tipis. "Adrian. Atau seharusnya aku memanggilmu Tuan Tanujaya?" Adrian menghela napas. "Aku minta maaf." "Maaf? Maaf untuk apa? Untuk semua kebohongan? Untuk semua janji palsu?" suara Layla tenang, tapi menusuk. Adrian berusaha menjelaskan, tapi Layla mengangkat tangannya. "Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku hanya ingin kau tahu, aku sudah *move on*. Aku sudah bahagia." Layla mengeluarkan ponselnya. Sebuah foto terpampang di sana: Layla dan seorang pria lain, berpegangan tangan, tertawa bahagia. Adrian menatap foto itu dengan mata nanar. Layla bangkit berdiri. Ia menatap Adrian sekali lagi, senyumnya kini tulus. "Terima kasih untuk semua kenangan. Selamat tinggal, Adrian." Layla berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu, Adrian menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Beberapa hari kemudian, Layla menerima pesan terakhir dari Adrian. Sebuah pesan suara. Hanya satu kata: "**Layla...**" Suara Adrian terdengar parau, penuh kesedihan yang mendalam. Layla menghapus pesan itu. Ia menutup matanya. *Hatinya terasa kosong. Tapi, entah kenapa, ia merasa puas.* ***Apakah dia akan menyesal selamanya?***
You Might Also Like: Agen Kosmetik Bimbingan Bisnis Online
Post a Comment