## Aku Mencintaimu di Setiap Kehidupan, Tapi Selalu Harus Kehilanganmu Hujan sakura berjatuhan, membasahi jubah putih Han Jiao. Aroma pahit obat herbal bercampur dengan wangi bunga itu, memenuhi paviliun usang tempat kami bertemu. Ini adalah kehidupan keseratus lima puluh tujuh, dan seperti sebelumnya, matamu – mata setajam obsidian, sedalam jurang – memandangku dengan tatapan asing. “Siapa kau?” bisikmu, suaramu serak dan lemah. Aku menelan ludah. Kalimat itu, selalu kalimat itu. Dalam setiap reinkarnasi, pertanyaan yang sama menghancurkan hatiku. Aku, Lien Hua, adalah belahan jiwamu, kekasih abadi yang dikutuk untuk menyaksikanmu mencintai orang lain, mati di tangan musuh, atau terjerat takdir yang bukan untukku. Dulu, di kehidupan pertama, aku adalah putri mahkota yang kau lindungi. Kau, seorang jenderal muda, berjanji setia abadi. Janji itu terukir di hatiku, di jiwa ini, dan di setiap _kehidupan_ yang mengikuti. Tapi kemudian, intrik istana memisahkan kita. Kau dituduh berkhianat, dan aku, terikat oleh sumpah, tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikanmu dieksekusi di pelataran istana. **DARAHMU** membasahi tanah tempat janji itu diucapkan. Di kehidupan ini, kau adalah tabib agung, dipuja karena keahlianmu. Aku? Hanya seorang gadis desa yang datang memohon kesembuhan untuk ibuku. Hatiku berdegup kencang saat melihatmu, mengenali guratan wajah yang sama, senyum tipis yang sama. Aku tahu, aku *tahu* takdir kita akan berulang. Dan benar saja, seorang putri dari kerajaan utara mencuri hatimu. Kau menikahinya, memberinya seluruh duniamu, dan aku… aku hanya bisa meracik obat herbal untuk menekan rasa sakit. “Aku hanya seorang pengembara,” jawabku pelan, menyembunyikan pedih di balik senyum getir. “Aku hanya ingin menawarimu ramuan penyembuh.” Kau mengamatinya, alis terangkat. Kecurigaan membayang di matamu. Aku tahu kau tidak mengingatku, tapi ada sesuatu yang menarikmu padaku. Mungkin sisa-sisa benang takdir yang masih terikat erat. Aku menyerahkan botol porselen kecil berisi ramuan berwarna hijau zamrud. “Ramuan ini akan memperkuat energimu, Tuan Tabib. Kau terlihat lelah.” Kau menerimanya dengan ragu, lalu menyesapnya. Ekspresimu tidak berubah. Tapi aku melihatnya. Aku melihat getar halus di tanganmu, keringat dingin di pelipismu. *Ramuan itu bukan hanya untuk menyembuhkan, Jiao’er.* Itu adalah racun yang aku racik sendiri, menggunakan resep yang aku pelajari di kehidupan sebelumnya, ketika kau mengajariku tentang herbal. Racun yang perlahan akan melemahkanmu, membuatmu rentan. Racun yang akan membuatmu… lebih mudah dikendalikan. Saat senja merayap, menyelimuti paviliun dengan bayangan kelabu, kau batuk. Darah segar menodai jubah putihmu. Kau menatapku, kebingungan bercampur kengerian di matamu. "Kau..." bisikmu, napasmu tersengal. Aku berlutut di hadapanmu, meraih tanganmu yang dingin. “Aku mencintaimu, Han Jiao. Di setiap kehidupan. Tapi aku _lelah_ kehilanganmu." Kau menarik napas terakhirmu. Tubuhmu terkulai di tanganku. Hujan sakura semakin deras, seolah ikut menangisi takdir kita. Kematianmu kali ini akan berbeda. Musuhmu tidak akan membunuhmu. Istrimu tidak akan mencuri hatimu. Kali ini, takdir yang akan mengambil alih. Takdir yang akan membawamu padaku, di kehidupan selanjutnya, sebagai **BUKTI** atas semua pengorbanan yang kulakukan. Aku berdiri, meninggalkan tubuhmu di bawah hujan sakura. _Takdir memang kejam, tapi dendam jauh lebih sabar._
You Might Also Like: Kenapa Harus Produk Skincare Lokal Yang

Post a Comment