Cerpen Terbaru: Tuan Muda, Aku Tak Lagi Menangis Di Makammu, Karena Aku Kini Istrimu Yang Baru

## Tuan Muda, Aku Tak Lagi Menangis di Makammu, Karena Aku Kini Istrimu yang Baru Gerimis tipis membasahi kelopak bunga persik di taman Istana Timur. Aroma dupa dan melati menyelimuti udara, membangkitkan memori yang terasa asing namun *menghantui*. Aku, Lin Yue, putri kesayangan Jenderal Besar Lin, dipersiapkan untuk menikah dengan Tuan Muda agung dari Sekte Bulan Darah, Bai Ze. Namun, tatapanku tertuju pada gundukan tanah sederhana di sudut taman. Di sanalah, dalam *kehidupan yang terasa seperti mimpi buruk*, aku bersimpuh dan menangis, setiap tahun, setiap musim semi. Di sanalah, Tuan Muda Bai Ze, suamiku yang tercinta, beristirahat. Kini, aku berdiri di sini, *calon istrinya*. Ironi yang menusuk jantung. Sejak kecil, aku memiliki mimpi-mimpi aneh. Penglihatan tentang intrik istana, pedang berlumuran darah, dan *wajah yang sangat aku cintai*, kini terbaring dingin di bawah batu nisan. Mimpi itu perlahan menjelma menjadi ingatan yang menyakitkan. Aku, Lin Yue, seorang selir rendahan, difitnah dan dihukum mati atas tuduhan palsu. Bai Ze, suamiku, berusaha melindungiku, namun terlambat. Ia meninggal tak lama kemudian, karena patah hati dan racun yang tak terdeteksi. Sekte Bulan Darah, sekte yang sangat dijunjung oleh rakyat, ternyata menyimpan *kejahatan tersembunyi*. Aku menatap pantulan diriku di kolam teratai. Wajah ini, wajah Lin Yue yang baru, menyimpan dendam yang terpendam. Di kehidupan sebelumnya, aku lemah dan naif. Sekarang, aku akan *memainkan peran* ini dengan sempurna. Aku akan menjadi istri Tuan Muda Bai Ze, menelisik rahasia kelam Sekte Bulan Darah, dan memastikan keadilan akan ditegakkan. Upacara pernikahan berlangsung megah. Bai Ze, *tampan dan dingin*, menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Aku tahu, ia belum mengingat apa pun. Tapi aku akan membuatnya mengingat. Aku akan membuatnya *merasakan* apa yang aku rasakan. Seiring waktu, aku semakin dekat dengan Bai Ze. Aku mempelajari kebiasaannya, kesukaannya, ketakutannya. Aku melihat celah dalam pertahanannya, keraguan di matanya. Dan kemudian, *bukti itu datang*. Catatan rahasia yang tersembunyi di balik lukisan di ruang kerjanya. Catatan itu mengungkap dalang di balik kematianku di kehidupan sebelumnya: *selir kesayangan Kaisar*, yang rupanya adalah mata-mata Sekte Bulan Darah. Ternyata, kematianku hanyalah bagian dari rencana yang lebih besar untuk melemahkan kekaisaran dan menaklukkan seluruh negeri. Aku tidak menjatuhkan pedang. Aku tidak mengumbar kemarahan. Aku hanya membuat satu keputusan. Sebuah keputusan *halus namun menghancurkan*. Aku membujuk Bai Ze untuk meninggalkan Sekte Bulan Darah, untuk melepaskan gelar Tuan Mudanya, dan bersamaku, membangun kehidupan baru di tempat yang jauh dari intrik dan kebohongan. Ia setuju. Ia memilihku. Kami meninggalkan Istana Bulan Darah di bawah kerudung malam, meninggalkan masa lalu dan dendam di belakang. Aku *memenangkan* ini. Aku mengubah takdir. Aku membalas dendam dengan *kebahagiaan*. Saat kami menunggang kuda menjauh dari kejaran, aku menoleh ke belakang, menatap siluet istana yang semakin mengecil. Di sana, di antara bayangan dan cahaya bulan, aku berbisik: "Suatu hari nanti, *kita akan kembali*, bukan sebagai pengungsi, tetapi sebagai penakluk."
You Might Also Like: Unlock Your Routers Potential With

Post a Comment