Oke, ini dia kisah dracin pendek yang kamu inginkan: **Aku Terlambat Mati, Ia Terlambat Mencinta** Kabut menggantung pekat di puncak Gunung Tai, menyelimuti kuil kuno yang kesepian seperti kain kafan. Di antara pilar-pilar lapuk, seorang pria berdiri. Wajahnya pucat pasi, matanya *mengandung* lautan kesedihan dan dendam. Ia adalah Wei Lan, yang lima belas tahun lalu dinyatakan tewas dalam pemberontakan berdarah. Dulu, ia adalah putra mahkota yang dicintai. Sekarang, ia hanyalah hantu masa lalu, kembali untuk menagih utang. Di bawahnya, di aula utama kuil, berdiri seorang wanita anggun bergaun sutra merah. Wajahnya masih cantik, namun kerutan halus di sudut matanya mengkhianati beban berat yang dipikulnya. Ia adalah Permaisuri Liu, janda Wei Lan, dan penguasa *mutlak* Kekaisaran Zhongyuan. Wei Lan melangkah turun, setiap langkahnya menggema di kesunyian yang mencekam. Permaisuri Liu menoleh, matanya membulat tak percaya. "Lan…apakah itu benar-benar kau?" bisiknya, suaranya bergetar. Wei Lan tersenyum pahit. "Apakah kau merindukanku, Permaisuri? Atau kau hanya terkejut rencanamu *gagal total*?" "Rencana? Apa yang kau bicarakan, Lan? Aku berduka atas kematianmu setiap hari." "Kebohongan yang indah," desis Wei Lan, mendekat hingga hanya beberapa langkah dari sang permaisuri. "Tahukah kau, aroma dupa di sini mengingatkanku pada malam pemberontakan. Aroma yang sama yang kau gunakan untuk melumpuhkan penjaga istana. Aroma yang sama yang kau *gunakan* untuk menikamku dari belakang." Permaisuri Liu terhuyung mundur. "Itu…itu fitnah! Aku mencintaimu, Lan! Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" "Cinta? Cintamu sama gelapnya dengan kabut gunung ini," balas Wei Lan, suaranya dingin seperti es. "Kau menginginkan tahta. Kau menginginkanku *mati* agar putramu bisa berkuasa. Dan kau berhasil, bukan?" Permaisuri Liu tertawa getir. "Ya, aku berhasil. Kau terlalu naif, Lan. Terlalu lembut untuk memimpin kekaisaran yang penuh intrik dan pengkhianatan. Aku melakukan apa yang harus kulakukan." "Dan kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?" Wei Lan mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah jimat giok yang tergantung di lehernya. "Kau lupa, Permaisuri, bahwa sebelum mati, aku mewariskan seluruh kekuasaanku kepada…orang yang paling *kaucintai*." Permaisuri Liu menatap jimat itu, wajahnya memucat. "Tidak mungkin…Xia…Xia’er?" Wei Lan tersenyum. "Ya. Putra kesayanganmu, Kaisar muda Xia, sekarang berada di bawah kendaliku. Segala keputusannya, setiap titah yang ia keluarkan…semuanya berasal dariku." Permaisuri Liu berlutut, air mata mengalir di pipinya. "Ampuni aku, Lan…kumohon…" Wei Lan berjongkok, menatap mata sang permaisuri dengan tatapan penuh kemenangan. "Terlambat, Permaisuri. Aku terlambat mati, dan kau…terlambat mencintaiku." Ia berdiri, meninggalkan sang permaisuri yang terisak di lantai kuil. Saat ia berbalik, ia menyadari satu hal yang mengerikan: keheningan di kuil itu bukan hanya karena kabut. Itu adalah keheningan sebelum badai yang *sesungguhnya* dimulai. Wei Lan melangkah keluar dari kuil, menuju kabut yang menyelimuti Gunung Tai. Di punggungnya, ia bisa merasakan tatapan Permaisuri Liu, penuh dengan kebencian dan ketakutan. Ia tahu, permainannya baru saja dimulai. Dan ia akan memastikan bahwa Permaisuri Liu membayar semua dosa-dosanya, *bahkan lebih dari yang ia bayangkan*. Di bawah lapisan kabut yang menutupi kebenaran, ia selalu memegang kendali. ***Dan sekarang, dia akan memastikan semua orang tahu itu.***
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Tanpa Stok

Post a Comment