## Senyum yang Menghilang di Balik Hujan Hujan selalu *berdengung* di telinga Awan. Bukan rintik lembut yang menenangkan, tapi raungan statis, seperti **SINYAL** yang hilang di tengah malam. Ia hidup di tahun 2042, masa ketika cinta hanya tersisa dalam algoritma dan kenangan pahit tentang bumi yang sekarat. Setiap malam, Awan memandangi hologram rembulan yang pudar, merindukan sesuatu yang bahkan ia tak tahu apa. Lalu, ia melihatnya. Di layar retak tablet kuno yang ia temukan di pasar loak, muncul sebuah senyum. Senyum **NYATA**. Bukan filter, bukan AI, tapi senyum tulus milik Senja. Senja hidup di tahun 1998. Dunia memang belum sempurna, tapi setidaknya hujan masih terasa basah di kulitnya. Ia bekerja di kedai kopi *'Kenangan Pahit Manis'*, menyeduh kopi untuk para pelanggan yang patah hati atau jatuh cinta. Tapi Senja merasa ada yang kurang. Ia kerap bermimpi tentang masa depan yang jauh, tentang langit yang dipenuhi bintang buatan dan rasa sepi yang mencekik. Kemudian, tablet itu datang. Tablet itu, peninggalan aneh yang entah bagaimana bisa berfungsi, menampilkan wajah Awan. Wajah yang dipenuhi kerinduan, wajah yang seolah memanggilnya menembus ruang dan waktu. Mereka mulai bertukar pesan. Percakapan aneh tentang kopi yang terlalu pahit, tentang langit yang kehilangan warna, tentang harapan yang tersisa dalam debu. Kata-kata mereka berbenturan, saling tumpang tindih, membentuk simfoni absurd yang hanya bisa dipahami oleh dua jiwa yang *TERLALU* kesepian. Awan menceritakan tentang dunia yang penuh dengan bangunan kaca yang menjulang tinggi, tentang mobil terbang yang tak pernah macet, tentang cinta yang diperdagangkan seperti komoditas. Senja bercerita tentang kaset pita yang kusut, tentang surat cinta yang ditulis tangan, tentang mimpi sederhana untuk memiliki rumah kecil di tepi pantai. Mereka **SALING** mencari, tapi terhalang oleh dimensi yang tak kasat mata. Awan mencoba mengirimkan drone waktu untuk menjangkau Senja, tapi selalu gagal. Senja mencoba meninggalkan pesan di botol yang dihanyutkan ke laut, berharap Awan menemukannya, tapi sia-sia. Suatu malam, Awan menemukan rekaman suara kuno di perpustakaan digital. Itu suara Senja, bernyanyi dengan gitar yang berderit. Ia mendengarkannya berulang-ulang, seolah suara itu adalah napas terakhir dunia. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang menakutkan. Senja tak pernah benar-benar ada di tahun 1998. Ia adalah proyeksi masa lalu yang diciptakan oleh Awan sendiri, sebagai cara untuk *MENGISI* kehampaan di hatinya. Tablet itu bukan artefak, tapi program simulasi canggih. Senja adalah gema dari cinta yang tak pernah terjadi, bayangan dari kehidupan yang tak pernah selesai. Ia kembali menatap layar. Senyum Senja perlahan memudar, terdistorsi oleh *glitch* yang tak terhindarkan. Hujan semakin deras, menelan semua suara, semua harapan. Dan sebelum layar itu padam untuk selamanya, Awan mendengar suara lirih, seperti bisikan angin: "Apakah kamu… ing- ingat… aku?"
You Might Also Like: Cerpen Keren Bayangan Yang Tak Mau Mati

Post a Comment