**Cinta yang Menghapus Darah dari Pedang** Hujan kota malam itu terasa seperti air mata semesta. Layar ponselku berkedip, memantulkan cahaya remang dalam kegelapan apartemen. Satu notifikasi. Bukan darimu. Hanya promo kopi dari kedai langgananmu. Aroma kopi hitam yang selalu kau pesan – pahit, seperti kenangan kita. Dulu, setiap notifikasi darimu adalah detak jantung yang berpacu. Sekarang, hanya *echo* samar dari kebahagiaan yang hilang. Aku masih menyimpan sisa chat yang tak terkirim. Untaian kata-kata rindu yang tak pernah sampai. Seperti mimpi buruk yang terus berulang, wajahmu hadir dalam setiap sudut kamarku. Kau menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Seperti kabut yang ditiup angin. "Dia… pergi," itu saja yang aku dengar dari temanmu, dengan nada suara yang **MISTERIUS**. Tapi *ke mana*? *Mengapa*? Pertanyaan-pertanyaan itu menusukku seperti serpihan kaca. Aku tenggelam dalam labirin **kenangan**. Pertemuan pertama di kafe saat hujan deras. Tawa renyahmu saat aku salah memesan kopi. Janji-janji manis yang kau bisikkan di bawah bintang-bintang. Semuanya terasa begitu nyata, namun kini hanya fatamorgana. Aku mencoba mencari tahu. Menggali informasi dari teman-temanmu. Mencari jejakmu di media sosial. Tapi semua yang kutemukan hanyalah *kekosongan*. Seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Seperti ada **RAHASIA** besar yang terpendam di balik senyum manismu. Semakin aku mencari, semakin aku merasa ada yang *tidak beres*. Semacam firasat buruk yang merayapi tulang belakangku. Ada kegelapan di balik keindahanmu. Sebuah pedang tersembunyi di balik senyummu. Hingga akhirnya, aku menemukannya. Sebuah foto lama. Dirimu, berdiri di samping seorang pria yang wajahnya sengaja dikaburkan. Di belakangmu, sebuah logo perusahaan dengan nama yang sangat familiar: *Perusahaan yang menghancurkan bisnis keluargaku bertahun-tahun lalu*. Semuanya menjadi jelas. Kau mendekatiku bukan karena cinta. Tapi karena… balas dendam. Kau adalah senjata, dikirim untuk menghancurkanku dari dalam. **KEHANCURAN** yang kau rancang begitu sempurna. Kau mencuri hatiku, lalu menghancurkannya berkeping-keping. Tapi aku bukan korban yang lemah. Aku bukan boneka yang bisa kau mainkan sesukamu. Aku akan membalas dendamku. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan amarah. Tapi dengan… keheningan. Aku menghapus semua foto dan chat kita. Aku memblokir semua kontakmu. Aku menghapusmu dari hidupku. Dan sebagai sentuhan terakhir, aku mengirimkan pesan terakhir padamu: "Terima kasih atas pelajaran yang berharga. Sekarang, giliranmu untuk belajar bagaimana rasanya… dilupakan." Lalu aku tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang *terakhir*. Dia tidak pernah membalas. Aku tidak pernah melihatnya lagi. Dan di dalam hatiku, hanya ada… …kehampaan yang begitu sempurna.
You Might Also Like: Bikin Penasaran Rahasia Yang

Post a Comment