## Kau Datang di Musim Gugur, Tapi Meninggalkan Musim Dingin di Hatiku Notifikasi LINE berdering lirih, membangunkanku dari lamunan tentang daun-daun **MERAH** yang berguguran di taman kota. *Dia*. Nama yang selalu muncul di antara notifikasi *urgent* dari kantor dan meme kucing lucu dari grup keluarga. Aroma kopi yang kubuat mendadak terasa pahit. Aroma yang dulu selalu menenangkan, kini hanya mengingatkanku pada sore-sore di kafe sudut jalan, tempat kami bertukar cerita dan mimpi di bawah payung saat hujan kota berderai. Pertemuan kami memang terasa ajaib. Di dunia serba digital ini, kami menemukan koneksi yang terasa *analog*. Senyumannya di layar ponsel, suaranya saat video call tengah malam, bahkan sapaan "Good Morning" yang sederhana darinya, cukup untuk membuat hari-hariku terasa lebih berwarna. Musim gugur membawa *CINTA* ke dalam hidupku, cinta yang tumbuh di antara sisa chat yang tak terkirim, stiker LINE yang berlebihan, dan playlist lagu indie yang kami buat bersama. Namun, semua itu tiba-tiba lenyap. Seperti daun yang terlepas dari rantingnya, dia pergi tanpa penjelasan. Pesan terakhirnya hanya berupa emoji senyum canggung. Lalu, *sunyi*. Sunyi yang lebih memekakkan daripada klakson mobil di tengah kemacetan Jakarta. Aku mencoba mencari tahu, menggali informasi dari teman-temannya, bahkan menelusuri akun media sosialnya yang mendadak terkunci. Nihil. Dia menghilang seperti *HANTU*. Musim gugur berganti musim dingin. Dinginnya menusuk tulang, bukan hanya karena cuaca, tapi karena *kehampaan* yang dia tinggalkan. Mimpi-mimpiku yang dulu penuh warna, kini hanya berisi *bayangan* dirinya yang samar. Aku merindukan tawanya, sentuhannya, bahkan kebiasaannya memesan kopi dengan terlalu banyak gula. Kenangan-kenangan itu kini menjadi belati yang menusuk hatiku setiap malam. Lama kelamaan, aku mulai menerima. Menerima bahwa *beberapa orang memang hadir untuk memberikan pelajaran, bukan untuk tinggal selamanya*. Aku mencoba fokus pada diriku sendiri, menyibukkan diri dengan pekerjaan, dan bertemu teman-teman. Namun, di balik senyum yang kupaksakan, ada satu *RAHASIA* yang kusimpan rapat-rapat. Rahasia yang akan mengubah segalanya. Suatu malam, aku menerima email anonim. Isinya hanya sebuah foto: dia, tersenyum, menggenggam tangan seorang wanita lain. Foto itu diambil di Tokyo, saat musim gugur sedang berlangsung. Jadi, itu alasannya. Alasan mengapa dia pergi tanpa kata. Alasan mengapa dia meninggalkan musim dingin di hatiku. *BALAS DENDAM* itu sederhana. Aku membalas email tersebut dengan pesan singkat: "Aku bahagia untuk kalian." Lalu, aku menghapus semua fotonya di ponselku, memblokir nomornya, dan *menghapus semua jejaknya dari hidupku*. Pagi itu, aku bangun dengan perasaan *RINGAN*. Aku berjalan ke balkon, menghirup udara segar, dan tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum palsu yang kupaksakan selama ini. Aku tahu, dia akan menyesal. Dia akan menyesal karena telah melepaskan seseorang yang mencintainya dengan tulus. Aku mengirimkan satu pesan terakhir ke grup pertemanan kami: "Aku pindah ke New York. Sampai jumpa di sana, *mungkin*." *Dan dia tahu, dia telah kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa dia dapatkan kembali.*
You Might Also Like: Agen Skincare Reseller Dropship Di_01433314246

Post a Comment