Baik, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Senyum yang Tak Sempat Kuterima', dengan sentuhan puitis dan fokus pada tokoh yang terluka namun tetap elegan: **Senyum yang Tak Sempat Kuterima** Hujan gerimis menari-nari di jendela apartemenku, sama seperti air mata yang diam-diam mengalir di pipiku. Cahaya kota yang gemerlapan terasa begitu redup malam ini, tak mampu menandingi kegelapan yang menyelimuti hatiku. Dulu, di apartemen ini, **TAWA** dan **CANDA** selalu bergema. Dulu, di sini, aku pernah merasa memiliki segalanya. Li Wei. Namanya terukir di setiap sudut ruang ini, di setiap helai napasku. Pria itu, dengan senyumnya yang *menipu*, pelukannya yang kini terasa *beracun*, dan janji-janjinya yang kini menjelma *belati*. Aku ingat, malam itu, di bawah rembulan yang sama, ia berbisik, "Aku akan selalu bersamamu, Xiao Qing." **_Kebohongan yang indah._** Aku, Xiao Qing, pewaris tunggal Grup Yun, selalu percaya pada kekuatan cinta. Aku memberikan hatiku seutuhnya pada Li Wei, seorang arsitek muda berbakat yang aku temui di sebuah acara amal. Aku membantunya meraih impiannya, membukakan jalan baginya. Aku bahkan rela mengorbankan posisiku di perusahaan demi mendukung kariernya. Namun, aku dibutakan. Aku terlalu percaya pada *senyumnya*. Aku terlalu hangat dalam *pelukannya*. Aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ada hati lain yang ia dambakan. Foto-foto itu… foto-foto yang dikirimkan secara anonim ke ponselku… menghancurkan duniaku dalam sekejap. Li Wei, bersama sekretarisku, Zhang Mei, di sebuah hotel mewah. *Berciuman*. *Tertawa*. *Saling menggenggam erat*. ***PENGHIANATAN***. Aku tidak menangis meraung-raung. Aku tidak mengamuk menghancurkan barang-barang. Aku hanya duduk terpaku, merasakan hatiku perlahan membeku. Malam itu, aku menemuinya. "Li Wei," kataku tenang, berusaha menyembunyikan getar dalam suaraku. "Aku tahu semuanya." Ia terdiam. Wajahnya pucat pasi. Ia mencoba menjelaskan, merangkai alasan yang terdengar begitu klise dan hambar. Aku mengangkat tanganku, menghentikannya. "Tidak perlu," ujarku. "Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidupku." Aku tidak memarahinya. Aku tidak memohon padanya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Aku kemudian bertindak. Dengan *elegansi* dan *ketenangan* yang selama ini menjadi ciri khasku, aku menyusun rencana. Bukan balas dendam berdarah, bukan teriakan histeris, melainkan sesuatu yang jauh lebih *menyakitkan*: penyesalan abadi. Aku menarik semua investasiku dari perusahaan Li Wei. Aku membatalkan semua proyek yang melibatkan dirinya. Aku memastikan namanya tercemar di kalangan bisnis. Zhang Mei? Dia dipecat. Kariernya hancur lebur. Aku tidak membunuh mereka. Aku tidak menyakiti mereka secara fisik. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku mengambil kembali *dunia* yang mereka coba curi dariku. Kini, aku duduk di sini, menatap hujan yang semakin deras. Aku tahu, Li Wei dan Zhang Mei sedang menderita. Mereka mungkin menyesal, mungkin membenciku. Tapi, aku tidak peduli. Aku hanya merasa… hampa. Senyum yang seharusnya kuterima, telah berubah menjadi air mata. Dan saat aku melihat ke cermin, aku sadar, di balik topeng ketenangan ini, ada luka yang mungkin takkan pernah sembuh. Aku meraih segelas anggur merah dan menyesapnya perlahan. Rasanya pahit dan manis, sama seperti balas dendam ini. Aku menghela napas panjang. Cinta… dan dendam… lahir dari tempat yang sama, bukan?
You Might Also Like: 45 Ready Or Not 2019 Cool Images

Post a Comment