**Aku Menunggumu Lahir di Dunia yang Tak Mengenal Air Mata** Rembulan malam itu serupa koin perak yang jatuh di dasar sumur. Sunyi. Hanya deru napas yang memburu, menggema di paviliun bambu yang lapuk. Tanganku, yang dulu begitu perkasa menggenggam pedang, kini gemetar menangkup perut yang membuncit. Di dalamnya, bersemayam harapan, juga kesedihan yang tak terperi. "Xing'er," bisikku, nama yang kuukir dalam hati, nama yang tak pernah berani kulafalkan di depan *siapa pun*. "Aku menunggumu lahir di dunia yang tak mengenal air mata. Tapi, aku gagal." Lima belas tahun lalu, di bawah pohon persik yang sedang merekah, kami berjanji. Dia, seorang pangeran yang terbuang, dan aku, seorang pendekar bayangan yang setia. Kami berjanji untuk membangun dunia tanpa darah, dunia tanpa pengkhianatan. Dia berjanji akan menghapus air mata dari pipi setiap insan. Tapi janji adalah ilusi, terbuat dari angin dan harapan palsu. Pengkhianatan merayap seperti racun, menggerogoti hatinya. Kekuasaan membutakannya. Tahta adalah segalanya. Dan aku… aku hanyalah penghalang. Dia menikahi putri dari kerajaan musuh. Membuangku ke ujung dunia. Melenyapkan segala jejak tentang cinta kita, tentang janji kita. *KEJAM*. Kelahiran anak ini adalah pengkhianatan yang lain. Bukti bahwa cintaku, cintaku yang suci, telah ternoda. Tapi aku tidak bisa membencinya. Anak ini adalah *dirinya* dalam versi yang lebih kecil, lebih polos. Air mataku akhirnya tumpah. Bukan karena sakit, tapi karena **PENYESALAN**. Penyesalan karena mencintainya, penyesalan karena mempercayainya. Aku akan membesarkan anak ini. Memberinya segala yang tidak aku dapatkan. Mengajarinya tentang keadilan, tentang kesetiaan. Tentang cinta yang tulus dan pengorbanan. Dan suatu hari nanti, ketika dia dewasa, ketika dia berdiri di hadapan ayahnya, dia akan menjadi cermin bagi segala dosanya. Dia akan melihat kehancuran yang telah dia ciptakan. Bukan dengan pedang, tapi dengan **KEBENARAN**. Dia, ayah yang tak pernah hadir, akan merasakan kehancuran yang sama seperti yang kurasakan. Kehancuran yang merobek hati, yang membekukan jiwa. Itulah keadilan sejati. Takdir yang menuntut balas. Aku menatap rembulan, membayangkan wajah mungil Xing'er. Aku akan melindunginya, bahkan dari ayahnya sendiri. Aku akan membesarkannya untuk menjadi pahlawan, ataukah **PEMBALAS**. _Apakah hatiku ini masih sanggup membedakan antara cinta dan dendam?_
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Pelukan Yang

Post a Comment