Baiklah, inilah cerita pendek bergaya dracin yang Anda minta: **Aku Menulis Surat Perpisahan, Tapi Tinta Berubah Jadi Darah** Alunan guqin mengalun lirih, membelah keheningan malam. Di kamar yang remang, aroma dupa cendana berpadu dengan kegetiran hatiku. Di hadapanku, gulungan kertas *xuan* putih bersih menanti. Malam ini, aku akan menulis. Bukan tentang cinta, bukan tentang harapan. Tapi tentang perpisahan. Luka ini terlalu dalam, terlalu perih untuk diucapkan. *Dia*… mengkhianatiku. Dengan sahabatku sendiri. Pemandangan itu, bagai pecahan kaca yang menghujam jantungku tanpa ampun. Tapi aku diam. Bukan karena lemah. Aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan segalanya. Kucelupkan kuas ke dalam tinta hitam. Perlahan, huruf-huruf mulai menari di atas kertas. Setiap goresan adalah tetesan air mata yang tertahan. Setiap bait adalah jeritan yang tak terucap. "Kepada Lin…." Namun, ada yang aneh. Tinta hitam itu… memerah? Warnanya *berubah*. Semakin aku menulis, semakin pekat warna merah itu. Sekarang, bukan lagi tinta. Melainkan… darah. Darah yang mengalir dari ujung kuas, membentuk kata-kata perpisahan yang mengerikan. Aku TERDIAM. *Apa* ini? Malam-malam berikutnya, kejadian itu berulang. Setiap kali aku mencoba menulis, tinta berubah menjadi darah. Kata-kata perpisahan itu semakin panjang, semakin mengerikan, diwarnai dengan merah yang semakin pekat. Aku mulai menyelidiki. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dulu, kakekku, seorang kaligrafer terkenal, pernah memperingatkanku tentang tinta kuno yang disimpan di loteng. Tinta *terkutuk*, katanya. Tinta yang menyerap emosi tergelap penggunanya dan mewujudkannya dalam tulisan. Awalnya aku tak percaya. Tapi kini, aku yakin. Ini bukan sekadar tinta. Ini adalah *kutukan*. Namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Darah yang tertulis di atas kertas itu… bukan darahku. Aku mengenalinya. Itu adalah darah Lin, sahabatku. Darah pengkhianatan. Lalu, teka-teki itu mulai terpecahkan. Lin, selama ini menderita penyakit jantung bawaan. Kondisinya semakin memburuk sejak… ia mengkhianatiku. Ternyata, kutukan tinta itu bekerja dengan cara yang aneh. Tinta itu menyerap energi kehidupan Lin, mengubahnya menjadi darah, dan menuliskannya di atas kertas sebagai pesan perpisahan *abadi*. Balas dendam yang tak kusengaja. Tanpa kekerasan. Hanya takdir yang berbalik arah, dengan pahit namun indah. Aku terus menulis. Bukan untuk membalas dendam. Tapi untuk mengakhiri penderitaan Lin. Setiap kata yang kutulis, semakin melemahkan dirinya. Sampai akhirnya, di malam ke tujuh, tinta itu mengering. Kertas itu penuh dengan darah merah pekat. Dan Lin… pergi untuk selamanya. Aku menatap gulungan kertas di hadapanku. Surat perpisahan yang ditulis dengan darah. Surat perpisahan yang tak pernah kukirimkan. Kini, aku bebas. Tapi kebebasan ini terasa hampa. Aku telah kehilangan cinta, persahabatan, dan… mungkin, juga diriku sendiri. Aku akan menyimpan rahasia ini selamanya. Rahasia tentang tinta terkutuk, tentang pengkhianatan, dan tentang balas dendam yang tak disengaja. Rahasia yang akan terus menghantuiku hingga akhir hayat. Dan ketika sang guqin berhenti berdendang, aku tahu… *Aku akan selalu bertanya-tanya, apakah yang tertulis dengan darah itu benar-benar sebuah keadilan, atau hanya sebuah kutukan yang lebih kejam.*
You Might Also Like: 180 Funny Minions Good Morning Gif Top

Post a Comment