**Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Bulan pucat menyoroti reruntuhan Kuil Seribu Naga. Angin berdesir membawa aroma melati yang memabukkan dan bau anyir darah yang tak lekang. Di tengah puing, seorang pemuda bernama Lian berdiri. Usianya baru 20 tahun, namun matanya menyimpan kesedihan *abadi*. Lian adalah seorang tabib muda yang dihormati. Ia memiliki bakat menyembuhkan luka, baik fisik maupun batin. Namun, ia seringkali dilanda mimpi aneh. Kilasan pedang, wajah-wajah muram, dan pengkhianatan yang terasa *begitu nyata*. Suatu malam, saat mengobati seorang prajurit yang terluka parah, prajurit itu meracau, "Ratu… Ratu dibunuh… oleh… Jenderal… Wang…" Jantung Lian berdebar kencang. Nama itu… Jenderal Wang. Nama itu terasa *familiar* namun asing. Seperti gema yang datang dari jurang terdalam ingatannya. Seiring berjalannya waktu, kepingan-kepingan masa lalu mulai menyatu. Ia ingat. Ia *INGAT SEMUANYA*. Ia adalah Ratu Li Hua, penguasa bijaksana yang dikhianati oleh Jenderal Wang, kekasihnya sendiri, karena ambisi kekuasaan. Ia dibunuh di Kuil Seribu Naga, dan kuil itu dibiarkan menjadi puing-puing saksi bisu pengkhianatan. Dendam? Ya, tentu saja ada dendam yang membara dalam dadanya. Namun, Lian bukan lagi Ratu Li Hua yang haus kekuasaan. Ia adalah tabib yang memahami penderitaan. Balas dendamnya akan *berbeda*. Kebetulan (atau mungkin takdir?) mempertemukannya dengan seorang pemuda bernama… Wang. Wang ini bukan jenderal kejam seperti di ingatannya. Ia adalah pemuda polos, idealis, dan penuh cinta. Ia bercita-cita menjadi pejabat yang jujur dan melayani rakyat. Ia adalah *reinkarnasi* Jenderal Wang. Lian tahu apa yang harus dilakukannya. Ia akan membantu Wang meraih cita-citanya. Ia akan menggunakan pengetahuannya, pengalamannya, dan pengaruhnya untuk membimbing Wang menjadi orang yang *lebih baik* dari kehidupan sebelumnya. Ia akan memastikan bahwa Wang tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Balas dendamnya bukanlah darah, melainkan *REFORMASI*. Akhirnya, Wang berhasil menjadi pejabat tinggi. Ia dikenal sebagai pejabat yang jujur dan adil, membela rakyat dan menjunjung tinggi keadilan. Suatu malam, Wang menghadap Lian di Kuil Seribu Naga. "Tabib Lian," kata Wang dengan tulus, "Tanpa bimbingan Anda, saya tidak akan menjadi seperti ini. Saya berhutang budi pada Anda." Lian tersenyum tipis. "Ingatlah, Wang. Kekuatan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang melayani." Wang mengangguk. "Saya akan mengingatnya selalu." Lian memandang bulan. Malam itu terasa begitu damai. Dendamnya telah terbalaskan. Bukan dengan darah, melainkan dengan harapan. Bukan dengan kematian, melainkan dengan *KEHIDUPAN*. Saat Wang pergi, Lian berbisik pelan ke arah angin, "Kita akan bertemu lagi… entah kapan…"
You Might Also Like: Harus Baca Aku Menjaga Jarak Agar Tak

Post a Comment