Cinta Yang Menetes Dari Luka Lama

Bab 1: Bunga Persik di Musim Dingin

Hembusan angin menusuk tulang, membelai pipi Bai Lian yang berdiri di bawah pohon persik yang tengah meranggas. Salju berjatuhan, menutupi tanah dengan permadani putih yang dingin. Namun, ada sesuatu yang aneh. Di tengah musim dingin yang membekukan, setangkai bunga persik berwarna merah muda bergairah mekar, seolah menentang takdir.

Bai Lian, seorang pelukis muda yang sedang naik daun, merasakan tarikan aneh pada bunga itu. Bukan hanya keindahan visualnya, tapi juga resonansi yang menggema dalam jiwanya. Ia seolah pernah melihatnya, merasakan keharumannya, bahkan sebelum ia dilahirkan.

Di galeri tempatnya berpameran, seorang pria paruh baya bernama Lin Wei menatap lukisan Bai Lian berjudul "Kembang Persik di Musim Dingin". Matanya berkaca-kaca. "Seratus tahun lalu… aku melihat lukisan yang sama," bisiknya lirih, hanya untuk dirinya sendiri.

Bab 2: Gema Melodi yang Hilang

Saat Bai Lian berjalan di taman kota, ia mendengar suara seruling yang menghantui. Melodinya bagaikan deja vu, memanggil-manggil kenangan yang terkubur dalam. Ia mengikuti suara itu hingga sampai di sebuah danau beku. Seorang pria muda dengan jubah hitam, memainkan seruling bambu dengan mata terpejam.

Pria itu, Xiao Feng, adalah seorang musisi jalanan dengan aura misterius. "Melodi ini… Siapa yang mengajarimu?" tanya Bai Lian, suaranya bergetar.

Xiao Feng membuka matanya. Irisnya yang gelap seolah menembus jiwa Bai Lian. "Melodi ini… lahir bersamaku," jawabnya dengan senyum samar.

Setiap pertemuan mereka selanjutnya dipenuhi dengan keganjilan. Xiao Feng selalu tahu apa yang akan dikatakan Bai Lian, seolah mereka pernah berbincang-bincang seperti ini sebelumnya. Bai Lian bermimpi tentang taman bunga persik di musim semi, tentang janji di bawah rembulan, dan tentang pengkhianatan yang mengerikan.

Bab 3: Jejak Darah di Sutra Putih

Lin Wei, yang terus mengikuti perkembangan Bai Lian, akhirnya memutuskan untuk berbicara. Ia memperlihatkan sebuah gulungan sutra tua, yang disimpan rapat dalam brankasnya. Di atas sutra itu, terlukis pemandangan yang sama dengan lukisan Bai Lian – kembang persik di musim dingin. Namun, di bawah kembang persik itu, terdapat noda darah yang mengering.

"Seratus tahun lalu, ada seorang wanita bernama Mei Lan. Ia adalah pelukis yang sangat berbakat. Ia mencintai seorang pria bernama… Xiao Tian," kisah Lin Wei. "Namun, Xiao Tian mengkhianatinya. Ia membunuh Mei Lan karena tergiur oleh kekuasaan dan kekayaan."

"Gulungan sutra ini dilukis oleh Mei Lan sebelum ia meninggal. Noda darah itu… adalah darahnya. Ia bersumpah akan kembali untuk membalas dendam."

Mata Bai Lian membulat. Kebenaran perlahan terungkap, bagaikan lapisan demi lapisan kabut yang tersingkap. Bai Lian adalah reinkarnasi Mei Lan. Xiao Feng, sang musisi jalanan, adalah reinkarnasi Xiao Tian.

Bab 4: Keheningan Lebih Tajam dari Pedang

Bai Lian menemui Xiao Feng di bawah pohon persik. Bunga itu kini bermekaran sempurna, menandai kembalinya cinta dan dendam.

"Xiao Feng, atau seharusnya aku memanggilmu Xiao Tian?" tanya Bai Lian dengan suara dingin.

Xiao Feng hanya tersenyum pahit. "Kau sudah tahu, Mei Lan… atau Bai Lian."

Bai Lian mengeluarkan kuas dan paletnya. Ia mulai melukis. Bukan pemandangan yang indah, tapi potret diri Xiao Feng dengan noda darah di lehernya.

"Kau seharusnya membalas dendam dengan membunuhku," kata Xiao Feng dengan tatapan kosong.

Bai Lian menyelesaikan lukisannya. Ia kemudian menatap Xiao Feng dengan mata yang penuh dengan kesedihan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan Xiao Feng yang terpaku di bawah pohon persik.

Balas dendam Bai Lian bukan dengan kemarahan, bukan dengan pedang, tapi dengan keheningan. Keheningan yang lebih tajam dari pedang, yang akan menghantui Xiao Feng selama sisa hidupnya. Ia memaafkan, bukan untuk Xiao Feng, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk membebaskan jiwanya dari rantai masa lalu.

Bab 5: Janji yang Tak Terucapkan

Bertahun-tahun kemudian, Bai Lian menjadi seorang pelukis yang sangat terkenal. Ia terus melukis bunga persik, sebagai pengingat akan cinta dan pengkhianatan. Xiao Feng menghilang, meninggalkan hanya kenangan pahit dan melodi yang menghantui.

Suatu malam, saat Bai Lian berdiri di balkon rumahnya, ia merasakan hembusan angin yang familiar. Ia mendengar suara seruling yang lirih, datang dari kejauhan. Melodinya berbeda, lebih lembut, lebih penuh penyesalan.

Ia menutup matanya, dan membisikkan sebuah kalimat yang seolah keluar dari bibir Mei Lan seratus tahun lalu:

"Mungkin… di kehidupan selanjutnya… kita akan bertemu lagi… dan kali ini… tanpa dosa… tanpa janji… hanya cinta…".

You Might Also Like: Seru Sih Ini Cinta Yang Menghapus Nama

Post a Comment