FULL DRAMA! Bayangan Yang Menjadi Saksi Pengkhianatan

**Senandung Hujan dan Bayang-Bayang Patah** Rintik hujan mencambuk atap paviliun, suaranya *mengejek*, persis seperti bisikan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Mei Lan berdiri di ambang pintu, siluetnya yang rapuh terpantul di kaca jendela yang berembun. Matanya, danau yang dulunya penuh tawa, kini hanya menyimpan genangan air mata yang tak pernah tuntas mengering. Dulu, paviliun ini adalah saksi bisu cinta mereka. Dulu, di bawah cahaya lentera kertas yang menari-nari, Lin Wei berjanji akan mencintainya selamanya. Dulu… sebelum pengkhianatan itu merobek segalanya. Bayangannya sendiri seolah mengkhianatinya, memanjang dan memburuk dalam remang cahaya. Ia ingat malam itu, malam saat Lin Wei memilih kekuasaan, memilih klan Yu, memilih segalanya selain dirinya. Kata-kata Lin Wei bagai belati dingin, menembus hatinya tanpa ampun. Ia hanya bisa terdiam, melihat punggung Lin Wei menjauh, ditelan kegelapan malam dan janji-janji palsu. Mei Lan mengulurkan tangan, merasakan dinginnya hujan yang menggigil. Ia menghirup aroma tanah basah, aroma yang selalu mengingatkannya pada Lin Wei. Dulu, mereka sering berjalan di bawah hujan, berpegangan tangan, tertawa tanpa beban. Kini, aroma itu hanya membawa pilu yang menusuk. Waktu berlalu, Lin Wei menjadi pemimpin klan Yu yang disegani. Ia menikahi putri dari klan terkuat, hidup dalam kemewahan dan kekuasaan. Sementara Mei Lan? Ia hidup dalam bayang-bayang, menghabiskan hari-harinya di paviliun yang semakin lapuk, merajut dendam yang perlahan tapi pasti tumbuh subur di dalam hatinya. Cahaya lentera kertas di paviliun itu redup, nyaris padam. Sama seperti harapan yang dulu pernah ia miliki. Tapi di balik mata Mei Lan, ada *kilatan* yang tidak redup. *Dendam*. Sudah bertahun-tahun, ia menunggu. Menyusun strategi, mengumpulkan informasi, merangkai setiap bidak dengan *SABAR*. Ia tahu, Lin Wei akan datang. Instingnya, yang diasah oleh bertahun-tahun kesepian dan kebencian, tidak pernah salah. Dan benar saja. Malam itu, di tengah badai yang mengamuk, Lin Wei berdiri di hadapannya. Wajahnya yang dulu tampan, kini dipenuhi garis-garis keras. Mata mereka bertemu, dan Mei Lan melihat setitik penyesalan di sana. Terlambat. "Mei Lan..." bisik Lin Wei, suaranya tenggelam dalam deru angin. Mei Lan tersenyum, senyum yang dingin dan mematikan. "Lin Wei. Selamat datang kembali ke rumah." Perlahan, ia mengangkat tangan, memperlihatkan sebuah *jepit rambut* perak yang berkilauan di telapak tangannya. Jepit rambut yang *IDENTIK* dengan milik mendiang ibunda Lin Wei… jepit rambut yang seharusnya hilang bertahun-tahun yang lalu, jepit rambut yang… menjadi BUKTI bahwa *akulah alasan ibumu meninggal dunia malam itu*.
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Fleksibel Kerja

OlderNewest

Post a Comment