Drama Populer: Aku Menulis Surat Pada Arwahmu, Berharap Suratnya Sampai Lewat Mimpi

## Aku Menulis Surat Pada Arwahmu, Berharap Suratnya Sampai Lewat Mimpi Malam ini, hujan di luar jendela meniru tangisku. Dinginnya meresap ke tulang, seperti penyesalan yang menjalar sejak kau pergi. Lima tahun. Lima tahun sejak janji di bawah pohon sakura itu terkubur bersama jasadmu. Dulu, di antara kelopak merah muda yang berguguran, kau berjanji akan menjagaku selamanya. "Xiao Lan," bisikmu, menggenggam tanganku erat, "Aku akan selalu ada, bahkan jika takdir memisahkan kita." ***BOHONG!*** Kini, hanya kertas putih di depanku yang menjadi saksi bisu. Pena menari pelan, menumpahkan tinta yang lebih pekat dari luka di hatiku. *Kepada Yun Hao, arwah kekasihku yang ingkar…* Setiap baris adalah racun yang kuukir dengan air mata. Mengenang senyummu, yang dulu kurasa sehangat mentari pagi. Mengingat ciumanmu, yang kini terasa seperti bara api yang membakar habis hatiku. Aku masih ingat malam itu. Malam ketika kau meninggalkan janji dan aku, demi ambisi dan wanita lain. Aku melihatmu, dari kejauhan, tertawa bersamanya di pesta yang gemerlap. Senyummu… *IDENTIK!* Sama persis seperti senyum yang kau berikan padaku di bawah pohon sakura. Kau memilih kekayaan dan kekuasaan, Yun Hao. Kau memilih hidup yang berkilau, meninggalkan aku terhuyung di kegelapan. Dan sekarang, di sini aku, menulis surat untukmu, berharap angin malam membawanya ke alam baka, menusuk kalbumu dengan setiap kata yang tertulis. Aku tahu kau takkan pernah membaca surat ini. Arwahmu mungkin terlalu sibuk menikmati kesenangan abadi yang kau dambakan. Tapi aku percaya, di alam mimpi, di antara bayangan dan bisikan, kata-kata ini akan sampai. Mungkin, di sana, kau akan merasakan sedikit saja dari kepedihan yang kurasakan. Mungkin, kau akan melihat bayangan pohon sakura yang kering, dan bayangan wajahku yang penuh air mata. Bertahun-tahun berlalu, aku melihatnya, istrimu. Wanita yang kau pilih. Dia bersinar, hidupnya dipenuhi dengan kesenangan yang dijanjikan dunia. Tapi aku tahu, jauh di lubuk hatinya, ada kekosongan yang tak terisi. Ada keraguan, ketakutan, dan rasa sakit yang tersembunyi. Aku, dengan senyum palsu dan topeng kesuksesan, berdiri di sampingnya, sebagai penasihat kepercayaannya. Aku menjadi orang yang dia andalkan, orang yang dia percayai. Aku ada di sana, di sisinya, menyaksikan keretakan dalam pernikahannya, kegelisahannya, dan rasa kehilangan yang menyelinap masuk. Aku menanam benih keraguan, sedikit demi sedikit, sampai pohon kebahagiaannya layu dan mati. Aku mengendalikan hidupnya, mengarahkannya ke kehancuran yang lambat dan menyakitkan. Dia akan merasakan sakitnya dikhianati, sakitnya ditinggalkan, sakitnya kehilangan. Sakit yang *PERNAH* kurasakan. Mungkin ini bukan balas dendam. Mungkin hanya takdir yang menyeimbangkan timbangan. Tapi aku tahu, di suatu tempat di antara dunia ini dan dunia lain, kau sedang menyaksikan. Dan aku, di sini, di bawah rembulan yang pucat, bertanya-tanya, apakah cinta yang sudah mati bisa melahirkan bibit dendam yang abadi, ataukah dendam yang akan melahirkan cinta yang teracuni?
You Might Also Like: Cerpen Kau Memberiku Hadiah Kecil Tapi

Post a Comment