Endingnya Gini! Kau Reinkarnasi Dari Dosaku, Dan Aku Jatuh Cinta Lagi

Kau Reinkarnasi dari Dosaku, dan Aku Jatuh Cinta Lagi

Hujan abu mengepul di atas Kota Terlarang yang megah namun rapuh. Di tengah kekacauan dinasti yang bergejolak, tumbuhlah dua anak manusia: Lian, pangeran yang terlupakan, dan Bai Hua, pelayan istana dengan tatapan setajam belati. Mereka bukan saudara sedarah, bukan pula sahabat biasa. Mereka adalah sekutu dalam kesepian, terikat oleh janji diam yang diukir di bawah pohon plum yang mekar di tengah musim dingin.

"Bai Hua, mengapa kau selalu menatapku seperti itu?" tanya Lian, suatu senja saat usia mereka baru belasan. Suaranya lembut, namun menyimpan tanya yang dalam.

"Karena Yang Mulia mengingatkanku pada seseorang yang hilang," jawab Bai Hua, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Seseorang yang seharusnya tidak pernah kulupakan."

Waktu berlalu. Lian tumbuh menjadi kaisar yang kejam namun karismatik. Bai Hua menjadi penasihat kepercayaannya, bayangan yang selalu mengikuti langkahnya. Kekuasaan mengubah mereka, namun ikatan mereka tetap utuh, sekuat rantai yang mengikat kapal di tengah badai.

"Lian, apa yang kau inginkan dari kekaisaran ini?" bisik Bai Hua, suatu malam di bawah rembulan pucat.

"KEKUASAAN, Bai Hua. Untuk memastikan tidak ada seorang pun yang akan mengalami nasib sepertiku," jawab Lian, matanya menyala dengan ambisi yang membara.

Namun, di balik kesetiaan dan kekuasaan, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Ingatan samar tentang pengkhianatan, dendam yang membara, dan reinkarnasi yang tragis.

Siapakah yang mengkhianati siapa?

Misteri itu mulai terkuak saat artefak kuno ditemukan di bawah istana: sebuah pedang berlumur darah dan sepucuk surat yang memudar. Surat itu mengungkap kisah cinta terlarang, janji yang dilanggar, dan pembunuhan yang keji.

"Ini... tidak mungkin," gumam Lian, wajahnya pucat pasi saat membaca surat itu.

Kebenaran menamparnya seperti badai: Bai Hua adalah reinkarnasi dari kekasihnya di kehidupan lampau, seorang putri yang dikhianati dan dibunuh olehnya, Lian, di kehidupan sebelumnya. Dan Bai Hua, dengan segala kesetiaannya, telah merencanakan balas dendam yang sempurna.

"Kau... kau tahu?" tanya Lian, suaranya bergetar.

"Sejak awal, Yang Mulia. Aku hidup hanya untuk saat ini," jawab Bai Hua, matanya dingin seperti es. "Kau mengambil segalanya dariku. Sekarang, giliranmu."

Balas dendam pun dimulai. Satu per satu, sekutu Lian jatuh, istananya runtuh, dan kerajaannya terbakar. Di tengah kekacauan, Lian menyadari bahwa dia tidak hanya kehilangan kekaisarannya, tetapi juga Bai Hua. Dia mencintainya, bahkan setelah mengetahui kebenaran. Sebuah cinta yang lahir dari dosa dan terlarang selamanya.

Di puncak menara tertinggi, di bawah langit yang merah membara, mereka berhadapan. Pedang Bai Hua terhunus, siap menebas leher Lian.

"Mengapa, Bai Hua? Mengapa kau melakukan ini?" tanya Lian, air mata mengalir di pipinya.

"Karena cintamu adalah racun, Lian. Racun yang membunuhku di kehidupan sebelumnya, dan akan membunuhmu sekarang," jawab Bai Hua, sebelum menusukkan pedangnya.

Saat napas terakhirnya berhembus, Lian berbisik, "Mungkin... di kehidupan selanjutnya... kita bisa..."

You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Lokal Dengan

OlderNewest

Post a Comment