Pedang yang Menutup Kisah Dunia
Lorong istana itu dingin. Batu pualamnya memantulkan rembulan pucat, menciptakan bayangan panjang yang menari seperti hantu masa lalu. Setelah lima belas tahun, ia kembali. Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai pengkhianat, melainkan sebagai hantu yang menghantui mimpi-mimpi mereka.
Dulu, ia dikenal sebagai Lin Yun, jenderal termuda yang memimpin pasukan Kekaisaran mengalahkan bangsa barbar di utara. Dulu, ia dicintai dan dihormati. Lalu, ia jatuh. Dituduh berkhianat, mencuri Kitab Seribu Teknik, dan mati dalam kobaran api. Namun, malam ini, ia berdiri di hadapan Kaisar, wajahnya tersembunyi di balik topeng perak.
"Siapa kau?" tanya Kaisar, suaranya bergetar meskipun berusaha keras terdengar berwibawa.
Lin Yun mengangkat tangan. Cahaya rembulan menari di bilah pedang yang dihunusnya – Pedang Pemusnah Bintang, legenda yang konon mampu membelah gunung dan mengeringkan sungai. Pedang itu seharusnya terkunci di dalam lemari besi Kekaisaran.
"Pertanyaan yang menarik, Yang Mulia," jawab Lin Yun, suaranya tenang, namun setiap kata terasa bagai jarum yang menusuk. "Lima belas tahun adalah waktu yang lama. Cukup lama untuk melupakan wajah seorang teman, atau mungkin… seorang musuh."
Kabut merayap di lembah pegunungan, menyelimuti Kuil Seribu Doa. Di sanalah mereka bertemu kembali: Lin Yun dan Permaisuri Yue, wanita yang dulunya adalah sahabatnya, kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi dingin.
"Kau hidup," bisik Permaisuri, matanya memancarkan campuran antara keterkejutan dan… kekecewaan?
"Tidak seperti yang kau harapkan, bukan?" balas Lin Yun. "Aku datang untuk Kitab itu. Kitab Seribu Teknik."
Permaisuri tertawa pelan. "Kau masih percaya pada omong kosong itu? Kitab itu hanyalah cerita pengantar tidur untuk anak-anak."
"Benarkah?" Lin Yun melangkah maju, pedangnya berputar di tangannya. "Atau jangan-jangan… kau sendiri yang menyembunyikannya, Permaisuri? Menggunakannya untuk memperkuat kekuasaanmu?"
Dialog mereka berjalan pelan, sebuah tarian pedang verbal yang mematikan. Lin Yun mengungkapkan bukti-bukti yang selama ini ia kumpulkan: surat rahasia, saksi bisu, dan kebenaran yang disembunyikan di balik senyum manis Permaisuri. Akhirnya, wajah Permaisuri retak.
"Kau tidak tahu apa yang telah kulakukan untuk kerajaan ini!" serunya, suaranya penuh amarah. "Kaisar lemah, korupsi merajalela. Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk melindungi rakyatku!"
Lin Yun menggelengkan kepalanya. "Melindungi rakyatmu? Atau melindungi kekuasaanmu? Kau menuduhku berkhianat, membakarku hidup-hidup, demi menyembunyikan kebenaran bahwa kaulah yang mencuri Kitab Seribu Teknik, kaulah yang mengkhianati kerajaan ini!"
Pedang Pemusnah Bintang terangkat, membidik jantung Permaisuri.
"Kau… kau tidak akan berani…" bisik Permaisuri, ketakutan merayapi wajahnya.
Lin Yun tersenyum pahit. "Aku bukan lagi Lin Yun yang dulu. Api telah mengubahku. Dan kau… kau yang menciptakan monster ini."
Tiba-tiba, Permaisuri tertawa keras, tawanya menggema di lembah yang sunyi. "Kau pikir kau menang? Kau pikir kau membongkar rencanaku? Kau bodoh, Lin Yun. Kaulah yang menjadi pion dalam permainanku sejak awal. Kematianmu, kembalimu, semuanya… telah kurancang dengan sempurna."
Lin Yun terdiam. Kebenaran itu meremukkan hatinya, lebih perih dari tusukan pedang mana pun. Dia telah dibutakan oleh dendam, dimanipulasi oleh orang yang paling dipercayainya.
Pedang Pemusnah Bintang terjatuh ke tanah.
Permaisuri tersenyum dingin. "Dan sekarang… selesaikan tugasmu, pahlawanku."
Di balik topeng perak, Lin Yun akhirnya mengerti. Semua ini… adalah untuk memastikan kekaisaran berada di tangan yang tepat. Dia, sang jenderal yang dianggap mati, hanyalah alat untuk membersihkan kotoran dan mengamankan takhta.
... Dan akhirnya, sang korban yang sebenarnya adalah sang dalang.
You Might Also Like: 118 Roman Conquest Of Britannia
Post a Comment