Aku Tersenyum di Atas Luka, Karena Itu Satu-satunya yang Tersisa
Hujan gerimis membasahi atap paviliun. Aroma dupa sandalwood melayang, bercampur dengan getirnya teh chrysanthemum yang kuracik sendiri. Di luar sana, lentera-lentera istana memancarkan cahaya redup, tak mampu menembus kabut kesepian yang melingkupiku.
Lima tahun. Lima tahun aku memendam semuanya. Senyum yang kutampilkan di hadapan semua orang adalah topeng. Luka di hatiku adalah kenyataan pahit yang selalu menganga. Dikhianati oleh orang yang kucintai, oleh sahabat yang kusayangi. Tapi aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku tak berdaya.
Rahasia… Sebuah rahasia besar yang jika terungkap, akan mengguncang seluruh kekaisaran. Rahasia yang melibatkan takhta, intrik politik, dan darah. Rahasia yang membuatku rela mengorbankan kebahagiaanku sendiri.
(Guqin di depanku bergetar pelan, nadanya senada dengan hatiku yang perih. Aku petik dawai-dawainya, mencoba merangkai melodi penyesalan.)
Dia… Pangeran Mahkota, kekasihku dulu. Dia memilihnya. Putri dari jenderal besar, yang kekuatannya bisa memperkokoh posisinya. Aku? Aku hanyalah selir rendahan, anak seorang pedagang kain. Tidak pantas.
Namun, malam itu… malam sebelum pernikahannya, dia datang menemuiku. Wajahnya pucat, matanya ketakutan. Dia berbisik, "Lin Yue… Aku dijebak."
Dijebak? Oleh siapa? Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku hingga kini.
(Setiap tahun, di hari pernikahannya, aku selalu menerima kiriman bunga plum putih. Tanpa nama. Tanpa pesan. Hanya bunga plum putih. Mengapa?)
Aku mulai menyelidiki secara diam-diam. Di balik senyum palsuku, aku mengumpulkan informasi. Potongan-potongan teka-teki mulai tersusun, membentuk gambaran yang mengerikan.
Jenderal besar… Dia tidak loyal kepada Pangeran Mahkota. Dia bersekongkol dengan pangeran lain, adik dari Pangeran Mahkota, untuk merebut takhta! Pernikahan ini hanyalah kedok untuk memperkuat posisinya.
Lalu, rahasia yang kupendam selama ini… Aku mengandung anaknya. Anak Pangeran Mahkota. Bukti pengkhianatan yang bisa menghancurkan rencana mereka.
Aku bisa saja membongkar semuanya. Aku bisa saja membalas dendam. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Karena… anakku. Aku harus melindungi anakku.
(Aku tersenyum, senyum pahit yang menutupi air mata.)
Takdir punya caranya sendiri untuk membalas dendam.
Beberapa bulan kemudian, jenderal besar itu meninggal dunia dalam pertempuran. Putra mahkota, yang merasa bersalah karena telah mengkhianati cintaku, meninggal dunia beberapa tahun kemudian akibat penyakit misterius. Pangeran lain yang bersekongkol dengan jenderal itu diusir dari istana karena tuduhan korupsi. Semua musuhku hancur, bukan karena aku yang melakukannya, tapi karena takdir.
Anakku… dia tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan cerdas. Dia tidak tahu siapa ayah kandungnya. Dia menganggapku sebagai ibunya dan mencintaiku dengan sepenuh hati.
Malam ini, aku duduk di paviliun, menatap langit yang dipenuhi bintang. Semuanya telah berlalu. Luka-lukaku perlahan sembuh.
Tapi… apakah aku benar-benar bahagia?
(Aku berhenti memetik guqin. Suara hujan semakin deras.)
Apakah dia akan memaafkanku jika dia tahu kebenaran?
You Might Also Like: Panduan Sabun Muka Lokal Tanpa Pewarna
Post a Comment