## Bayangan yang Mengkhianati Surga Seratus tahun telah berlalu sejak *Yan Mei*, sang putri pemberontak, jatuh dari tebing terjal bersama *Lin Wei*, jendral kepercayaannya. Dosa mereka adalah mencintai di tengah badai politik, janji mereka adalah bertemu kembali di kehidupan selanjutnya. Kini, bunga *plum blossom* kembali merekah di *Musim Dingin*, seperti dulu kala. Lahirlah *Bai Lian*, seorang seniman kaligrafi yang hidup menyendiri, terganggu oleh mimpi-mimpi aneh tentang pertempuran berdarah dan bisikan nama asing. Suaranya, meski baru pertama kali terdengar, terasa begitu *FAMILIAR*, bagai melodi yang pernah mengisi hatinya di kehidupan lampau. Di sisi lain, *Zhao Yunlan*, seorang cendekiawan tampan dan dingin, mendapati dirinya tertarik pada Bai Lian. Aura Bai Lian bagai *DEJA VU*, mengingatkannya pada seseorang yang seharusnya tak mungkin diingat. Ketertarikan itu terasa kuat, tak terkendali, bagai takdir yang memanggil. Pertemuan mereka di bawah pohon *sakura* yang berguguran adalah awal dari perjalanan panjang menelusuri jejak masa lalu. Bai Lian tanpa sadar menggambar lambang klan Yan, lambang yang seharusnya telah dilupakan. Zhao Yunlan, tanpa diminta, mampu melafalkan puisi-puisi kuno yang hanya diketahui oleh orang-orang istana seratus tahun lalu. Setiap pertemuan, setiap sentuhan, membangkitkan kenangan terpendam. Potongan-potongan masa lalu berhamburan, bagai pecahan kaca yang menyakitkan. Mereka menemukan buku-buku tua yang menceritakan pemberontakan Yan Mei, lukisan-lukisan usang yang menggambarkan Lin Wei, dan jejak-jejak lain yang mengarah pada satu kebenaran: *MEREKA* adalah reinkarnasi dari Yan Mei dan Lin Wei. Namun, ada satu bayangan yang terus menghantui. Sebuah kebenaran pahit yang perlahan terungkap: bukan hanya cinta mereka yang dikutuk, tapi juga pengkhianatan. Seorang penasihat istana bernama *Xie Long*, sahabat dekat Lin Wei, ternyata bersekongkol menjebak Yan Mei, demi ambisi kekuasaan. Dialah yang mengirim mereka ke jurang maut. Kini, Xie Long telah bereinkarnasi sebagai *Liang Feng*, seorang menteri yang licik dan berkuasa. Ia masih menyimpan dendam dan berusaha menyingkirkan Bai Lian dan Zhao Yunlan, agar rahasia masa lalunya tidak terkuak. Pertempuran pun dimulai. Namun, Bai Lian tidak membalas dengan kemarahan atau kekerasan. Ia membalas dengan *KEHENINGAN* dan *PENGAMPUNAN* yang menusuk jiwa Liang Feng. Ia menunjukkan kepadanya betapa sia-sianya dendam, betapa cinta sejati lebih kuat dari kekuasaan. Zhao Yunlan berdiri di sisinya, memberikan kekuatan dan perlindungan. Di akhir cerita, Liang Feng hancur. Bukan oleh pedang, tapi oleh rasa bersalah yang mendalam. Ia mengakui dosanya, mengakui cinta Yan Mei dan Lin Wei yang *ABADI*. Bai Lian dan Zhao Yunlan akhirnya menemukan kedamaian. Mereka tidak membalas dendam, tapi memutus rantai kebencian. Mereka mengerti bahwa cinta mereka, meski terhalang oleh dosa dan pengkhianatan, tetap akan mekar kembali, seperti *bunga plum blossom* di musim dingin. Saat matahari terbenam, Bai Lian berbisik pada Zhao Yunlan, sebuah kalimat yang terasa asing namun begitu familiar: " *Jaga janji kita, Lin Wei…* "
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Modal
Post a Comment