**Ia Tak Pernah Berjanji, Tapi Aku Tetap Menunggu** Langit Jakarta berdenyut, bukan fajar, tapi deretan lampu LED yang sekarat. Di apartemen sempit lantai 27, aku, Anya, menatap layar ponsel. Tiga titik abadi menari di gelembung chat: *sedang mengetik…* sebuah janji palsu di era digital. Udara terasa dingin, seperti notifikasi tengah malam yang membangunkanmu dari mimpi indah. Aku hidup di masa depan yang retak. Gedung-gedung menjulang angkuh, tapi sinyal cinta lebih sering hilang daripada sinyal Wi-Fi. Kenangan adalah mata uang termahal, dan aku miskin. Di ujung spektrum waktu yang lain, hiduplah Raden. Seorang pemuda dengan kemeja batik lusuh dan mata teduh seperti senja di Borobudur. Aku tahu dia, bukan dari foto usang, tapi dari potongan puisi yang kutemukan di sela-sela kode program lama. Raden hidup di masa lalu yang indah, masa lalu yang tak pernah benar-benar kumiliki. Kami terhubung melalui glitch dalam matriks, melalui denyut jantung algoritma yang salah. Aku mengiriminya pesan melalui aplikasi yang seharusnya sudah punah, dia membalas dengan surat yang dikirim lewat layanan *sms gateway jadul* yang entah bagaimana masih berfungsi. "Anya," ketiknya suatu malam, "Bintang jatuh lebih terang daripada layar ponselmu. Carilah keindahan di luar sana." Ironis. Aku menatap bintang-bintang yang tersembunyi di balik kabut polusi. Keindahan? Itu kata asing. Aku tahu dia tidak pernah berjanji. Raden tidak pernah menjanjikan pertemuan, tidak pernah menjanjikan masa depan bersamaku. Tapi aku menunggu. Aku menunggu di ambang waktu, di antara _pixel_ yang berkelap-kelip dan kenangan yang memudar. Suatu hari, surat terakhirnya datang. Hurufnya bergetar, tintanya pudar. "Anya… Aku tak bisa lagi menjangkaumu. Di sini, waktu berjalan berbeda. Tapi ingatlah…" Kalimatnya terputus. Sinyal hilang. Layar ponselku *BLANK*. Aku mendapati diriku duduk di depan komputer kuno, program DOS berkedip di layar. Aku membuka file yang sudah lama kulupakan: PROYEK REKAYASA GENETIKA. Di dalamnya, terpampang foto Raden, bukan sebagai pemuda romantis, tapi sebagai… *SUBJEK UJI*. Ternyata, Raden hanyalah proyek gagal dari masa lalu. Sebuah upaya menciptakan manusia yang bisa berkomunikasi melintasi waktu. Dan aku? Aku adalah keturunannya, warisan genetik yang mewarisi *ECHO* cintanya. Cinta kami bukan pertemuan dua jiwa, tapi pantulan dari eksperimen yang tak pernah selesai. Ia tidak pernah berjanji, karena ia tidak pernah punya pilihan. Aku menunggu, bukan karena harapan, tapi karena aku adalah _bug_ dalam sistem, anomali yang tak bisa dihapus. Dan saat dunia benar-benar padam, aku tahu apa yang akan kutemukan… _…di ujung koneksi yang terputus, hanya ada sunyi, dan baris kode yang belum sempat dieksekusi._
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Takdir Yang Memainkan
Post a Comment