## Cinta yang Hidup di Tubuh Asing **Notifikasi** berkedip di layar ponsel. Sebuah nama yang asing, namun terasa begitu *dekat*. Layaknya hantu dari masa lalu yang tak benar-benar pergi, ia kembali menghantui tidurku, menghiasi mimpi-mimpi yang seharusnya sudah menjadi abu. Namanya, atau mungkin hanya sekadar _nama samaran_, adalah Xiao Feng. Aku tidak mengenalnya. Atau setidaknya, aku *seharusnya* tidak mengenalnya. Tapi ada sesuatu yang **ANEH**. Setiap kali hujan kota turun, aroma kopi late di kedai dekat kantor menyeruak, atau lagu lawas dari tahun 90-an diputar di radio, aku merasakan *kepingan memori* yang bukan milikku. Kilasan-kilasan adegan. Tawa renyah. Sentuhan tangan. Dan wajah…wajah Xiao Feng. Aku hidup di Jakarta, bekerja sebagai *programmer* yang nyaris tidak punya waktu untuk bernapas. Bagaimana bisa aku menyimpan kenangan tentang seorang pemuda dari negeri antah berantah? Pencarianku dimulai dari sana. Dari *sisa chat yang tak terkirim*, tersimpan di folder draft akun media sosial yang sudah lama tidak ku sentuh. Kata-kata yang indah, puitis, terkesan asing namun begitu **FAMILIAR**. "Malam ini bulan sabit, sepertimu. Hadir sebentar, lalu menghilang." "Semoga mimpi kita bertemu di galaksi yang sama." Siapa yang menulis ini? Dan untuk siapa? Langkahku membawa ke sebuah klinik terpencil di pinggiran kota. Seorang dokter tua dengan mata yang teduh menatapku dengan tatapan yang penuh pengertian. "Anda adalah pasien transmigrasi, Nona." Transmigrasi. Sebuah kata yang hanya kubaca di novel-novel fantasi. Tapi penjelasannya masuk akal. Aku hidup dengan sebagian jiwa Xiao Feng di dalam diriku. Kenangan-kenangan itu adalah *jejaknya*. Cintanya. Dan…_kehilangannya_. Ternyata, Xiao Feng adalah seorang *artis lukis jalanan* di Shanghai. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis, meninggalkan seorang kekasih yang sangat ia cintai. Kekasih yang…ternyata adalah aku. Atau, setidaknya, *seorang wanita yang sangat mirip denganku*. Perasaan kehilangan yang samar kini menjelma menjadi *kegamangan yang menusuk*. Aku mencintai seseorang yang tidak pernah benar-benar ku kenal. Mencintai kenangan, mimpi, dan notifikasi dari ponsel yang kini menjadi *jendela menuju masa lalu*. Misteri hubungan yang belum selesai ini akhirnya menemukan titik terang. Xiao Feng tidak meninggal karena kecelakaan biasa. Ia *dibunuh*. Rival seniman yang iri dengan bakatnya. *** Dan di sinilah aku. Di depan lukisan Xiao Feng yang dipamerkan di sebuah galeri seni di Shanghai. Lukisan terakhirnya. Potret diriku, atau lebih tepatnya, potret wanita yang mirip denganku. Di sudut bawah lukisan, terukir sebuah pesan: "Untuk cintaku, di mana pun kau berada. Kebenaran akan terungkap." Balas dendam lembut? Mungkin ini. Menemukan pembunuh Xiao Feng dan menyerahkannya ke pihak berwajib? Mungkin juga. Tapi yang terpenting adalah… Aku *akan* melanjutkan hidupku. Aku mengambil napas dalam-dalam, menatap lukisan itu sekali lagi, lalu tersenyum. Senyum *terakhir*. Senyum yang bukan lagi milik Xiao Feng, tapi murni milikku. Aku meninggalkan galeri, melangkah menuju masa depan yang belum pasti, namun penuh harapan. Pesan terakhir kukirimkan ke nomor telepon yang dulu milik Xiao Feng. "Selamat tinggal, Xiao Feng. Terima kasih atas cintamu." **Terkirim.** Dan entah mengapa, pesan itu terasa begitu…**FINAL**...
You Might Also Like: Tiempos En Vivo De Garitas En Mexicali

Post a Comment