**Tangisan yang Menyembunyikan Namamu** Bulan purnama menyinari Danau Barat, memantulkan bayangan pagoda yang kesepian. Di paviliun terpencil, Lin Mei hanya duduk diam, menikmati kesunyian yang menyesakkan. Alunan *guqin* dari kejauhan terasa lirih, seperti tangisan yang tertahan. Tangisan yang *terpaksa* ia telan setiap malam. Lima tahun lalu, ia adalah tunangan Li Wei, pewaris tunggal keluarga Li yang kaya raya. Mereka saling mencintai, atau setidaknya Lin Mei *percaya* begitu. Hingga malam itu, malam perayaan ulang tahunnya yang ke-20, ketika ia tanpa sengaja mendengar percakapan antara Li Wei dan sahabatnya, Zhao Lei. "Aku tidak mencintai Lin Mei, Zhao Lei. Aku membutuhkan posisinya. Ayahnya adalah penasihat utama kaisar. Pernikahan ini akan memperkuat posisiku di istana." Kata-kata itu menghantam Lin Mei seperti ribuan jarum. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia ingin berteriak, memaki, menuntut penjelasan. Tapi ia tidak bisa. Ia tidak *boleh*. Karena ia menyimpan rahasia yang akan menghancurkan segalanya. Sebuah rahasia yang terkait dengan tato bunga teratai berwarna ungu di punggungnya. Tato yang menandakannya sebagai keturunan terakhir dari klan terlarang, klan pembunuh bayaran yang memiliki dendam lama terhadap keluarga Li. Jika identitasnya terungkap, ia akan menjadi buruan. Bukan hanya Li Wei, tapi seluruh istana akan memburunya. Maka, Lin Mei memilih diam. Ia tidak membatalkan pertunangan. Ia bahkan bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. Ia menjadi bayangan dirinya sendiri, tersenyum di depan Li Wei, namun menangis dalam diam setiap malam. Setiap hari, Lin Mei mengamati Li Wei. Ia melihat keserakahannya, kebohongannya, dan pengkhianatannya. Ia tahu, cepat atau lambat, kebusukan Li Wei akan tercium. Ia hanya perlu menunggu. Waktu berlalu. Keluarga Li semakin berjaya, namun juga semakin *arogan*. Mereka meremehkan musuh, dan menganggap kekayaan dan kekuasaan mereka abadi. Inilah kesalahan fatal mereka. Tepat sebelum pernikahan Lin Mei dan Li Wei, kaisar tiba-tiba jatuh sakit. Para tabib istana tidak mampu menyembuhkannya. Kemudian, muncul desas-desus tentang kutukan. Desas-desus yang Lin Mei sengaja hembuskan, sedikit demi sedikit, seperti angin yang membawa bibit dandelion. Dan di tengah kekacauan itu, Zhao Lei *membocorkan* sebuah rahasia kepada kaisar. Sebuah rahasia tentang korupsi dan penyuapan yang dilakukan keluarga Li untuk memperkuat pengaruh mereka. *RAHASIA YANG DULU LIN MEI BISIKKAN KEPADANYA.* Kaisar murka. Ia memerintahkan penyelidikan menyeluruh. Keluarga Li hancur dalam semalam. Li Wei kehilangan segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan kehormatannya. Ia dijebloskan ke penjara, menunggu hukuman mati. Lin Mei menyaksikan semua itu dari kejauhan, tanpa sedikit pun rasa iba. Dendamnya terbalaskan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan takdir yang berbalik arah. Ia telah mengembalikan nama baik klannya, tanpa harus mengotori tangannya dengan darah. Malam itu, Lin Mei kembali ke paviliun di Danau Barat. Bulan purnama bersinar terang, menerangi tato bunga teratai ungu di punggungnya. Ia tersenyum tipis. Lalu, ia meninggalkan kota, menuju kehidupan baru, dengan nama baru. Namun, ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya. Sebuah pertanyaan yang tidak akan pernah ia temukan jawabannya: Apakah Li Wei *benar-benar* tidak pernah mencintainya, ataukah semua itu hanya drama yang lebih besar, yang ia sendiri tidak tahu perannya? Dan rahasia itu...selamanya akan terkubur bersamanya.
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Bisnis

Post a Comment