Cerpen: Pedang Yang Menyimpan Kenangan Terakhir

Tentu saja, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Pedang yang Menyimpan Kenangan Terakhir': **Pedang yang Menyimpan Kenangan Terakhir** Bulan menggantung rendah di atas Kota Terlarang, memandangi siluet istana yang megah namun dingin. Di balkon Paviliun Anggrek, berdiri seorang wanita. Putri Lian, yang terkenal dengan kecantikannya yang memukau dan hatinya yang seluas samudra. Gaun sutranya berwarna *sepia*, seolah menyerap cahaya rembulan, menyembunyikan gundah di balik keanggunan yang tak tertandingi. Senyumnya dulu adalah mentari yang menghangatkan, kini hanyalah **topeng** yang menutupi jurang kesedihan. Pangeran Jian, cinta sejatinya, pria yang telah bersumpah setia di bawah pohon sakura yang bermekaran, telah memilih jalan pengkhianatan. Ia memilih tahta, dan Putri Lian hanyalah batu loncatan baginya. Pelukan Jian, yang dulu terasa sehangat musim semi, kini terasa *membeku* dan *beracun*. Setiap bisikan cinta yang terucap, kini terdengar seperti belati yang menghujam jantungnya. Janji-janji itu, ***dulu*** adalah bintang penuntun, kini hanyalah debu yang beterbangan dihembus angin dusta. Di tangannya, Putri Lian menggenggam erat pedang pusaka keluarga, "Bai Lian." Pedang itu *bukan* untuk menumpahkan darah. Pedang itu adalah tempat ia menyimpan kenangan terakhir. Kenangan tentang cinta yang pernah ada, harapan yang pernah bersemi, dan kepercayaan yang telah hancur berkeping-keping. Malam itu, Pangeran Jian merayakan pertunangannya dengan Putri Ning dari kerajaan tetangga. Putri Lian hadir, anggun dan mempesona seperti biasa. Ia mengangkat gelas anggur, matanya bertemu dengan mata Jian. Tak ada amarah, tak ada air mata. Hanya **kekecewaan** yang mendalam. "Untuk kebahagiaanmu, Jian," ucapnya dengan suara yang tenang, nyaris berbisik. Anggur itu, anggur yang paling mahal di seluruh kekaisaran, telah dicampur dengan ramuan *kelumpuhan* yang sangat halus. Ramuan yang tidak akan membunuh, tapi akan mengunci tubuh Jian dalam penjara keabadian. Mulai hari itu, Jian akan hidup sebagai raja boneka. Ia akan memerintah, tapi tanpa *kemampuan* untuk merasakan, untuk mencintai, untuk menyesal. Putri Ning akan memerintah di sampingnya, sementara bayang-bayang Putri Lian akan menghantuinya selamanya. Dendam Putri Lian bukanlah darah dan kematian. Dendamnya adalah ***penyesalan abadi*** yang akan menggerogoti jiwa Jian sampai akhir hayat. Dendam yang akan membuatnya menyadari, apa yang telah ia hilangkan demi sebuah tahta yang hampa. Putri Lian berbalik, meninggalkan pesta yang gemerlap. Ia tahu, **kemenangannya** telah diraih. Di balkon Paviliun Anggrek, ia berdiri menatap bulan. Hatinya terasa ringan, namun juga hancur. Karena cinta dan dendam, *ternyata*, lahir dari tempat yang sama…
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Diserang Ayam Kampung

Post a Comment