Drama Baru! Bayangan Yang Menghilang Di Tengah Asap

**Bayangan yang Menghilang di Tengah Asap** Asap dupa cendana mengepul perlahan, menari-nari di antara bayangan lilin merah. Wangi itu menusuk kalbuku, membawa kembali kenangan pahit manis tentang Li Wei. Li Wei, dengan senyumnya yang bagai mentari pagi, dan janji-janji yang kini hanya debu di telapak tanganku. Dulu, di taman bunga persik yang bermekaran, kami bersumpah. Di bawah langit senja yang merah jambu, ia berjanji akan menungguku, selamanya. Ia berjanji, bahkan jika lautan berubah menjadi daratan, cintanya padaku takkan pudar. Sebuah janji yang terasa abadi, diukir di hatiku yang muda. Tapi perang datang. Aku, anak seorang jenderal, harus mengangkat pedang. Li Wei, putri seorang pedagang kaya, terpaksa menikah dengan seorang bangsawan tua untuk menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan. Aku terlambat. Sangat terlambat. Malam ini, di kuil ini, di hadapanku, berlutut seorang wanita. Wajahnya pucat, matanya merah sembab. Dia bukan lagi Li Wei yang kukenal. Dia adalah Nyonya Agung Wang, istri seorang pria yang kejam dan berkuasa. "Lin Hao… aku… aku tidak punya pilihan," bisiknya, suaranya bergetar seperti daun di musim gugur. Air mata menetes di pipinya, membasahi sutra yang mahal. Aku menatapnya, **MENERKA** apa yang sebenarnya ingin ia katakan. "Pilihan? Kamu selalu punya pilihan, Li Wei. Kamu memilih *kekayaan*, *kekuasaan*, dan meninggalkan aku di medan perang." Dia menggeleng lemah. "Tidak! Aku tidak punya pilihan! Jika aku menolak, keluargaku akan… akan hancur." "Dan aku? Apa kabar hatiku yang hancur?" Aku bertanya, suaraku nyaris berbisik. Asap dupa semakin tebal, menyembunyikan ekspresi wajahku. Aku tidak ingin dia melihat kesedihan yang masih bersemayam dalam diriku. Aku tidak ingin dia melihat betapa aku masih… *mencintainya*. Sunyi. Keheningan yang memekakkan telinga. Hanya suara isak tangisnya yang memecah kesunyian malam. Aku membungkuk, meraih tangannya yang gemetar. Kulitnya terasa dingin dan halus di telapak tanganku. "Li Wei, aku datang bukan untuk menyalahkanmu. Aku datang untuk membebaskanmu." Dia mendongak, menatapku dengan mata yang penuh harapan. "Membebaskan?" Aku tersenyum pahit. "Ya. Membebaskanmu dari beban masa lalu. Membebaskanmu dari penyesalan." Aku melepas jepit rambut peraknya, satu-satunya hadiah yang pernah kuberikan padanya. Jepit itu berkilauan di bawah cahaya lilin, sebelum akhirnya jatuh ke lantai dengan bunyi *ting* yang pelan. "Ini," kataku, suaraku serak. "Kenangan kita. Simpanlah. Atau buanglah. Terserah padamu." Aku berbalik, berjalan pergi. Meninggalkannya berlutut di tengah asap dupa cendana, bayangannya yang menghilang ditelan kegelapan. Aku tahu, suatu hari nanti, karma akan datang menjemputnya. Bukan oleh tanganku, tapi oleh tangan takdir itu sendiri. Dan aku, hanya akan menjadi saksi bisu dari keadilan yang dituntut langit. *Bangsawan Wang* beberapa waktu kemudian ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya. Disebut-sebut, penyebabnya adalah penyakit jantung yang mendadak. Namun, orang-orang berbisik tentang kutukan, tentang karma, tentang bayangan yang kembali menagih janji yang dilanggar. Dan aku? Aku hanya tersenyum. Senyuman yang menyimpan sejuta rahasia, sejuta penyesalan, dan sejuta janji yang tak pernah terucap. Cinta dan dendam, dua sisi mata uang yang sama, dan aku tidak tahu, mana yang lebih dominan di hatiku saat ini… atau mungkin, keduanya telah menyatu, tak terpisahkan, seperti asap dan bayangan.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Dicakar Ikan

Post a Comment