Cerpen: Kau Berkata Akan Menghapus Semua Dosa, Tapi Aku Yang Tak Ingin Ditebus

Baiklah, ini dia, kisah modern Dracin berjudul 'Kau berkata akan menghapus semua dosa, tapi aku yang tak ingin ditebus': **Kau berkata akan menghapus semua dosa, tapi aku yang tak ingin ditebus** Hujan kota tumpah di balik jendela apartemenku, memburamkan lampu-lampu yang berpendar seperti kunang-kunang digital. Di layar ponsel, notifikasi itu masih ada: “*Dia* mengirim pesan.” Jari-jariku berhenti. Sudah setahun. Setahun sejak aroma kopi pagi digantikan sunyi, sejak tawa renyahnya hanya jadi _gaung_ di dalam aplikasi pesan suara yang tak berani kuhapus. Dulu, kita bertemu di dunia paralel bernama *game*. Namanya Lin, dan dia adalah *healer* terbaik yang pernah kutemui. Dia menyembuhkan luka-luka karakterku, dan tanpa sadar, luka-luka di hatiku juga. Kita berjanji untuk bertemu di dunia nyata, di sebuah kafe kecil di jantung kota. Aroma kopi robusta, percakapan hangat, dan tatapan mata yang seolah tahu semua rahasiamu. Dia bilang, dia bisa menghapus semua dosa. Tapi dosa apa yang sebenarnya ingin dia hapus? Kenangan itu bagai _slide_ foto yang berputar tanpa henti. Lin yang tersenyum di bawah payung merah. Lin yang gugup saat pertama kali memegang tanganku. Lin yang berkata, "Aku *akan* menjagamu." Dan kemudian, Lin yang tiba-tiba menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Hanya sisa *chat* yang tak terkirim, dan sebuah misteri yang membungkus hatiku dengan kabut kelabu. Aku mencoba mencari tahu. Mencari di balik nama Lin yang samar, di balik akun-akun media sosial yang terkunci. Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah foto. Foto lama. Foto dirinya bersama seorang pria, seorang pria yang *sangat* kukenal. Ayahku. Rahasia itu menghantamku seperti gelombang tsunami. Ayahku, pria yang selama ini kukagumi, ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Dan Lin… Lin adalah *korban*. Dia datang untuk menebus dosa ayahnya, untuk menyembuhkan luka yang ditinggalkan. Tapi luka yang disembuhkannya justru membuatku semakin hancur. Aku tidak ingin ditebus. Aku ingin *memahami*. Malam itu, aku membalas pesannya. Pesan pertama dalam setahun. “Aku tahu.” Tidak ada penjelasan. Tidak ada amarah. Hanya dua kata yang cukup untuk menyampaikan semuanya. Aku mematikan ponselku. Berdiri di depan jendela, membiarkan hujan membasahi wajahku. Aku mengambil secangkir kopi, menghirup aromanya dalam-dalam. Aroma yang kini terasa pahit. Ini bukan tentang penebusan dosa. Ini tentang *keadilan*. Aku memutuskan untuk tidak mencari tahu lebih jauh. Aku akan membiarkan masa lalu tetap terkubur. Lin telah memilih jalannya, dan aku akan memilih jalanku sendiri. Jalanku menuju *kebebasan*. Aku menulis sebuah pesan terakhir, bukan untuknya, tapi untuk diriku sendiri. Aku simpan sebagai *draft*. Tidak akan pernah terkirim. Kemudian, aku tersenyum. Senyum tipis, dingin, dan *mematikan*. Besok, aku akan menghadiri rapat dewan direksi perusahaan ayahku. Dan aku akan menunjukkan kepada mereka, apa artinya **KEHILANGAN**. Aku akan menghancurkan *semuanya* yang dibangun ayahku. Bukan karena aku ingin membalas dendam pada Lin. Tapi karena aku ingin membalas dendam pada diri sendiri, pada kebodohan dan keyakinanku yang naif. Keadilan memang butuh pengorbanan. Dan pengorbanan yang kulakukan akan menjadi _simfoni_ kematian yang indah. Aku menghela napas panjang. Udara terasa berat dan menyesakkan. Aku akan membuat mereka merasakan sakit yang *seperti ini*…
You Might Also Like: 155 Inspirasi Sunscreen Lokal Ringan

Post a Comment